Tulisan ke-3 gw, 4 tahun lalu, yang gw temukan di folder.
Tulisan yang terlupakan, namun sudah ditemukan. Hahahaha.
Enjoy ^_^
I
have told you before!
Judul
tulisan kali ini memang sengaja saya tampilkan dalam Bahasa Inggris.
Ini masih berkaitan dengan kemauan 'mendengarkan' di tulisan saya
sebelumnya. Tentu saja! Karena jika orang mau mendengarkan dengan
baik apa yang sudah diberitahu, dia pasti akan mengingat dan
menyimpan dalam memori di otaknya sehingga kemungkinan untuk terjadi
kesalahan atas apa yang sudah diberitahu dengan hasil yang diinginkan
menjadi sangat kecil.
Minggu
lalu saya berkunjung ke tempat percetakan undangan di sebuah pasar di
bilangan Jakarta Selatan. Ini adalah pertemuan ketiga, di mana
pertemuan ini seharusnya sudah cukup untuk menyatakan bahwa desain
cetakan yang dibahas sudah layak untuk dicetak. Namun ternyata tidak.
Pertemuan sebelumnya menjadi tidak penting mengingat pertemuan saat
ini hasilnya sama saja dengan yang lalu, artinya masih banyak
kesalahan yang tercantum, kesalahan yang bahkan sudah direvisi minggu
lalu pun masih muncul pada pembahasan kali ini. Dalam hati saya
berkata, “Heiii, 'di manakah' anda, waktu saya menjelaskannya
kemarin?”. Memang saat diberitahu, si tukang cetak terlihat
mendengarkan dengan saksama sehingga seandainya dia tidak mencatatnya
pun, saat itu saya percaya, dia akan mengingat setiap detail yang
sudah diberitahu, walaupun saya sendiri pun sudah mengingatkan si
tukang cetak untuk mencatat revisian yang saya utarakan. Ternyata ya
begitu hasilnya. Masih banyak kesalahan. Dan dari kesalahan yang
muncul, yang dipertanyakan adalah apakah dia benar mendengarkan
saya?!
Atas
nama kesabaran dan pepatah bahwa kesalahan itu lumrah, saya berbesar
hati untuk menjelaskan kembali apa yang menjadi keinginan saya untuk
diakomodasi dalam bentuk cetakan undangan. Saya menjelaskan lagi
setiap detail dengan perlahan. Dan dia sepertinya mengerti. Saya pun
tetap percaya itu. But you know what??? itu terjadi lagi! Dia kembali
melakukan kesalahan. “Sabar, sabar, coba diberitahu lagi saja”
nurani saya berkata. Tapi kesabaran ya ada batasnya juga toh. Saya
kesal sendiri. Saya mengomel ke teman-teman. Saya tidak habis pikir,
kenapa ya ada orang yang sudah diberitahu tapi masih saja melakukan
kesalahan berulang kali. Dan lebih parah lagi, sewaktu dikoreksi, dia
malah bilang, “Waduh revisi lagi ya...”. Dalam hati saya
menjerit, “Heiii tolong sadar diri, kalau dari awal anda mengikuti
setiap detail yang saya beritahu, hal ini tidak perlu terjadi”. Dia
malah berkata seolah-olah saya banyak maunya sampai berulang kali
revisi. Astaga! Namun walaupun saya kesal, tapi tetap saya mencoba
untuk ngomong dengannya tanpa melibatkan emosi yang sebetulnya sudah
memuncak. Alhasil di revisian yang kelima, ya begitu lagi
kejadiannya, tetap dengan kesalahan yang sama di mana hal itu sudah
diberitahu sebelumnya. Cukup sudah kesabaran saya. Saya akan bertemu
langsung dengan orangnya, saya pikir jika saya revisi langsung di
tempat, semoga akan beres. Dengan berada di tempatnya saya berharap
dia bisa 'mendengarkan' lebih baik, sehingga saya tidak perlu sampai
meneriakkan “I have told you before”, walaupun iya saya sangat
ingin meneriakkannya. Kalau revisi langsung di tempat tidak ampuh
juga, ya sudah itu tandanya saya mesti mencari orang lain yang memang
lebih “niat berbisnis”.