Jumat, 21 Agustus 2015

Working At Home Mom 

Sudah terlalu lama saya tidak mengunjungi Blog sendiri, karena lebih memilih terlena dalam kesibukan yang dijalani daripada mengikuti passion dalam hal tulis-menulis. Bahkan, saya mengalami sedikit kesulitan dalam mengakses Blog yang saya buat sendiri, karena lupa e-mail dan password yang digunakan. Masalah yang saya rasa cukup umum dialami setiap orang. Kalau dilihat, kali terakhir saya menulis di Blog ini adalah di tahun 2013 yang lalu. Sekarang sudah hampir 2 tahun yang lalu. Waktu yang cukup lama, bukan?

Hari ini saya mau meng-update info terbaru dalam hidup saya. Tentu saja, begitu banyak hal yang sudah terjadi dalam kurun waktu hampir 2 tahun dan tidak mungkin saya ceritakan satu per satu, namun saya akan ceritakan hal-hal penting yang terjadi.

1. Setelah cukup lama bergumul mengenai resign untuk membantu usaha suami di rumah, tepat pada akhir Agustus 2014 akhirnya saya memberanikan diri untuk resign dan memilih menyandang status baru yang tak kalah keren dengan eksekutif kantoran, yaitu Working At Home Mom. Yang sering dibahas adalah Stay At Home Mom, namun saya menamakan diri WAHM karena memang, walaupun saya di rumah namun saya tetap sambil bekerja di kantor yang memang di rumah juga. Sebagai informasi, di rumah mertua, ada 1 ruang khusus yang digunakan sebagai kantor administrasi dalam mensupport usaha suami di bidang Aerosol pengharum ruangan. Demikianlah, sejak waktu itu sampai detik ini saya adalah WAHM! ^_^

2. Awal menjadi WAHM saya jalani tidak semudah yang saya bayangkan, karena terbiasa kerja di luar bertemu dengan banyak orang dengan aktivitas yang begitu dinamisnya. Namun seiring waktu, beberapa bulan setelahnya saya pun terbiasa dan mempunyai pola dalam menjalani dan menyeimbangkan kerja kantoran rumah, mengasuh anak-anak dan kegiatan pelayanan di GKJ Bekasi.

3. Saya sudah bisa nyetir, yeay!!! Setelah pernah belajar mengemudi di Kursus sekali, lalu belajar dengan pacar (yang skrg sudah menjadi suami), dan tidak kunjung berhasil, sekarang saya benar-benar sudah bisa nyetir. Tapi dengan mobil Automatic hehehe. Saya bilang, itu karena tuntuan kondisi. Justru sekarang saya di rumah dengan 2 anak Balita, saya lebih dituntut bisa nyetir supaya lebih fleksibel dan bisa mengantar anak sekolah, lalu urusan belanja juga lebih gampang karena tidak usah nunggu suami dulu baru belanja, sekarang kapan pun mau bisa capcus belanja sendiri. 

4. Semenjak menjadi WAHM, kegiatan pelayanan saya di GKJ Bekasi menjadi lebih intens. Kalau dulu dengan alasan pulang kerja malam dan weekend maunya istirahat dan waktunya Keluarga, sekarang waktu yang saya punya lebih fleksibel dan bisa saya manfaatkan sebaik mungkin untuk hal-hal yang saya mau.

5. Passion saya selain menulis, adalah menari. Puji Tuhan, passion menari ini bisa terwujud di tahun ini. Saya ingat terakhir saya menari adalah di bangku SMU, waktu saya dan beberapa teman dengan passion sama, mendirikan komunitas tari di sekolah. Sekarang itu terwujud di GKJ Bekasi, di mana Komunitas kami adalah khusus Tarian Jawa Tradisional. 

Sekian dulu update dari saya. Menulis sedikit, namun jadi ajang pemanasan untuk tulisan berikut saya.

Muuuuach,
Evelyn

Selasa, 04 Juni 2013

"I have told you before!"

Tulisan ke-3 gw, 4 tahun lalu, yang gw temukan di folder.
Tulisan yang terlupakan, namun sudah ditemukan. Hahahaha.

Enjoy ^_^

I have told you before!

Judul tulisan kali ini memang sengaja saya tampilkan dalam Bahasa Inggris. Ini masih berkaitan dengan kemauan 'mendengarkan' di tulisan saya sebelumnya. Tentu saja! Karena jika orang mau mendengarkan dengan baik apa yang sudah diberitahu, dia pasti akan mengingat dan menyimpan dalam memori di otaknya sehingga kemungkinan untuk terjadi kesalahan atas apa yang sudah diberitahu dengan hasil yang diinginkan menjadi sangat kecil.
Minggu lalu saya berkunjung ke tempat percetakan undangan di sebuah pasar di bilangan Jakarta Selatan. Ini adalah pertemuan ketiga, di mana pertemuan ini seharusnya sudah cukup untuk menyatakan bahwa desain cetakan yang dibahas sudah layak untuk dicetak. Namun ternyata tidak. Pertemuan sebelumnya menjadi tidak penting mengingat pertemuan saat ini hasilnya sama saja dengan yang lalu, artinya masih banyak kesalahan yang tercantum, kesalahan yang bahkan sudah direvisi minggu lalu pun masih muncul pada pembahasan kali ini. Dalam hati saya berkata, “Heiii, 'di manakah' anda, waktu saya menjelaskannya kemarin?”. Memang saat diberitahu, si tukang cetak terlihat mendengarkan dengan saksama sehingga seandainya dia tidak mencatatnya pun, saat itu saya percaya, dia akan mengingat setiap detail yang sudah diberitahu, walaupun saya sendiri pun sudah mengingatkan si tukang cetak untuk mencatat revisian yang saya utarakan. Ternyata ya begitu hasilnya. Masih banyak kesalahan. Dan dari kesalahan yang muncul, yang dipertanyakan adalah apakah dia benar mendengarkan saya?!
Atas nama kesabaran dan pepatah bahwa kesalahan itu lumrah, saya berbesar hati untuk menjelaskan kembali apa yang menjadi keinginan saya untuk diakomodasi dalam bentuk cetakan undangan. Saya menjelaskan lagi setiap detail dengan perlahan. Dan dia sepertinya mengerti. Saya pun tetap percaya itu. But you know what??? itu terjadi lagi! Dia kembali melakukan kesalahan. “Sabar, sabar, coba diberitahu lagi saja” nurani saya berkata. Tapi kesabaran ya ada batasnya juga toh. Saya kesal sendiri. Saya mengomel ke teman-teman. Saya tidak habis pikir, kenapa ya ada orang yang sudah diberitahu tapi masih saja melakukan kesalahan berulang kali. Dan lebih parah lagi, sewaktu dikoreksi, dia malah bilang, “Waduh revisi lagi ya...”. Dalam hati saya menjerit, “Heiii tolong sadar diri, kalau dari awal anda mengikuti setiap detail yang saya beritahu, hal ini tidak perlu terjadi”. Dia malah berkata seolah-olah saya banyak maunya sampai berulang kali revisi. Astaga! Namun walaupun saya kesal, tapi tetap saya mencoba untuk ngomong dengannya tanpa melibatkan emosi yang sebetulnya sudah memuncak. Alhasil di revisian yang kelima, ya begitu lagi kejadiannya, tetap dengan kesalahan yang sama di mana hal itu sudah diberitahu sebelumnya. Cukup sudah kesabaran saya. Saya akan bertemu langsung dengan orangnya, saya pikir jika saya revisi langsung di tempat, semoga akan beres. Dengan berada di tempatnya saya berharap dia bisa 'mendengarkan' lebih baik, sehingga saya tidak perlu sampai meneriakkan “I have told you before”, walaupun iya saya sangat ingin meneriakkannya. Kalau revisi langsung di tempat tidak ampuh juga, ya sudah itu tandanya saya mesti mencari orang lain yang memang lebih “niat berbisnis”.

"Belajar Mendengarkan"

Lagi-lagi, salah satu tulisan gw, 4 tahun lalu. Sayang sekali kalau ngga gw tampilkan.
Simak ya ^_^

MENDENGARKAN

Kapan terakhir kali anda benar-benar mendengarkan, saat orang lain sedang berbicara? Mungkin banyak dari anda yang akan menjawab bahwa anda selalu mendengarkan. Tapi apakah sudah mendengarkan dengan baik?
Baru tadi pagi saya mengalami pembicaraan yang berkaitan dengan “mendengarkan”. Saya cerita ke rekan saya, bahwa dari kemarin saya sakit dan sebenarnya hari ini rencananya tidak mau masuk kantor, tapi mengingat tugas-tugas yang ada, akhirnya saya masuk. Tapi dia malah merespons dengan juga menceritakan keluhan dia. Dia juga batuk dan nanti siang mau ke dokter. Merasa kurang direspons, saya mencoba menarik perhatian lagi dengan bercerita bahwa seharusnya saya masih beristirahat di rumah, mana ternyata bos juga tidak masuk. Dan dia kembali merespons dengan menceritakan keluh kesah nya. Menurut saya ini contoh di mana orang tidak mendengarkan. Memang benar, teman saya itu juga sakit, tapi alangkah baiknya jika dia terlebih dahulu merespons cerita saya, baru dia bercerita bahwa dirinya juga sakit. Jika demikian, pasti saya juga akan memberikan respons penuh perhatian kepadanya. Tapi karena dia dari awal tidak memberikan perhatian itu kepada saya, saya pun akhirnya tidak mau meresponsnya.
Bagi saya sangat penting untuk mendengarkan. Karena dengan mendengarkan, kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dengan demikian kita juga bisa menunjukkan perhatian kita pada orang yang sedang bercerita. Dari contoh di atas, terlihat jelas tidak adanya perhatian dari si lawan bicara rekan kerja saya. Dia malah sibuk untuk menceritakan mengenai dirinya juga. Padahal sebenarnya dengan saya bercerita, tentu dengan harapan agar mendapat perhatian dari rekan kerja saya itu. Sungguh sangat amat disayangkan, apabila hal ini terjadi. Karena didengarkan saat kita menuangkan isi hati dan pikiran adalah merupakan salah satu kebutuhan manusia. Maka itu sangat penting bagi kita untuk menguasai cara mendengarkan dengan baik. Ada beberapa tips dari saya, yang semoga bisa sedikit membantu bagi anda yang mengalami kesulitan untuk mendengarkan lawan bicara lebih dari 3 menit.
Pertama, cobalah menempatkan posisi anda sebagaimana di posisi lawan bicara anda. Rasakan apabila anda yang berada dalam situasi seperti dirinya dan sedang membutuhkan orang untuk mendengarkan segala curhatan yang ada. Tentunya anda sangat berharap akan didengarkan bukan?
Kedua, bersabarlah untuk mendengarkan setiap detail pembicaraan. Artinya, lebih baik anda diam dan mendengarkan terlebih dahulu, baru setelah itu merespons lawan bicara anda. Setidaknya anda sudah mendengarkan keseluruhan isi cerita sehingga bisa menyimpulkan dan merespons dengan lebih baik, dibandingkan apabila belum mendengarkan secara keseluruhan cerita, tapi sudah merespons, bisa-bisa respons anda malah kurang tepat jadinya.
Ketiga, sahabat yang baik pasti bersedia mendengarkan. Jika anda memang sahabat yang baik, anda akan bersedia mendengarkan semua cerita, keluh kesah, apapun yang ingin dibagikan dalam bentuk cerita kepada anda. Sahabat tentunya akan saling berbagi dan dengan mendengarkan anda sudah berbagi dengan sahabat anda.
Tiga tips di atas tidak sulit untuk dipraktekkan, asal kita mau mencoba dan tetap ingat bahwa yang kita lakukan adalah demi kebaikan bersama. Di satu sisi anda akan menjadi seorang sahabat yang paling baik karena bersedia mendengarkan, di sisi lain hubungan anda dengan lawan bicara pun bisa semakin erat karena lawan bicara merasa selalu diperhatikan. Selamat mencoba.



Kamis, 09 Mei 2013

"Aku Belajar"

Aku Belajar, bahwa tidak semua yang kita rencanakan akan berjalan sesuai pemikiran kita.

Aku Belajar, untuk tidak berlarut dan selalu mempunyai rencana cadangan.

Aku Belajar, bahwa sejalan dan fleksibel dengan situasi, membuat kita menjadi orang yang adaptif.

Aku Belajar, bahwa tentu saja, Sang Arsitek kita, Tuhan Yesus, justru sudah mempunyai rencana dan alasan terbaik dan indah di balik setiap perencanaan kita yang gagal dijalankan.

Aku Belajar, bahwa Tuhan begitu mengasihi kita, sehingga walau perencanaan kita gagal dijalankan, namun ternyata yang 'gagal' itu justru menyelamatkan kita di depannya.

Aku Belajar, bahwa sangat amat penting untuk senantiasa menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan.

Aku Belajar, untuk terus menerus belajar, karena hidup ini adalah proses pembelajaran.

**tulisan ini terinspirasi dari kisah kecil dari gaun putihku, kisah kecil yang membuatku begitu bersukacita karena campur tanganNya nyata**


Kamis, 01 November 2012

Second edition will be arrived ^_^

Sekian lama, sekian bulan sudah bayi mungil ini ada di perut gw. Bertumbuh kembang dengan lincahnya. Bahkan saat gw ketik tulisan ini, si bayi sedang menendang dengan kencangnya. Minggu ini sudah memasuki bulan ke-7. Puji syukur karena gw dan si bayi diberkati kekuatan dan kesehatan sampai detik ini. Terima kasih Tuhan Yesus.

Cerita ini akan dimulai saat Abigail berumur sekitar 18 bulan. Saat itu baik gw maupun suami merasa kita sudah boleh mencoba memberikan adik kepada Abby. Proses mencoba pun berlangsung. Dan memang, tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk akhirnya, doa kita terjawab. Karena periode haid gw cukup teratur, jadi gampang tahu kalau hamil atau ngga. Dan benar saja, setelah telad haid 1 minggu, gw putuskan untuk menunggu sampai 2 minggu untuk akhirnya test pack. Dan iya, hasilnya Positif, untuk 2 merk test pack berbeda. Senang banget.

Mulai saat itu pun, kita terus kasih tahu dan menanamkan ke Abby kalau dia akan mempunyai seorang adik yang harus disayang. Waktu awal kehamilan sih, Abby belum begitu ngerti. Tapi pas perut gw ud keliatan buncit, dia uda lebih ngerti, klo ada ade bayi di perut gw. Dan terus gw ajarin dan gw minta dia elus2, sayangi dan cium. Semoga Abby bisa menjadi seorang kakak yang sayang ade nya. Tentu saja, itu merupakan doa setiap orang tua, tul ga?

Kelahiran Abby dilakukan secara normal/spontan. Begitu juga rencana gw untuk ade nya ini. Sejauh ini sih, everything's okey. Artinya kesehatan gw baik jadi kemungkinan besar bisa dilakukan normal. Moga2 dilancarkan ya Gusti Yesus, Amin.

Oh ya satu hal penting, edisi ke-2 ini, doa gw n suami dikabulkan. Puji Tuhan, kita diberikan seorang anak cowok. Terima kasih ya Tuhan Yesus.

Kamis, 14 Juni 2012

Pelajaran tidak ternilai : Kejang demam


Kata orang, pengalaman adalah guru terbaik. Dan pengalaman or pelajaran itu sungguh mahal harganya bagi gw. Karena benar2 tidak ternilai untuk kejadian Abby ini. #Hiks.

Hari itu Kamis tanggal 07 Juni 2012. Seperti biasa, pulang dari kantor, pasti gw makan dan mandi dulu, baru deh memeluk dan menyusui Abigail. Saat gw peluk, badan Abby hangat. Tapi, ternyata tidak ada yang sadar akan hal itu kecuali gw. Gw ukur pake thermometer, suhunya 37,8 DerCel. Wah lumayan tinggi. Tapi, berhubung selama ini, sampai umurnya 20 bulan lebih, kalo badan hangat dikit cukup menyusui terus n istirahat bobo, maka kali ini gw perlakukan sama juga. Apalagi Abby masih ceria aktif lincah tidak seperti anak yang sedang tidak enak badan. Akhirnya bobo lah si Abby dengan cukup nyenyak kelihatannya. Cukup lama tertidur, Abby terbangun minta ASI. Ya sudah, gw susuin dengan tenang, tanpa pegang kening or ukur suhu badannya lagi. Sambil netek, abby sempet mengeluarkan suara bergumam. Bagi gw itu biasa karena kadang memang begitu. Nah, di sela bergumam itu, tahu2 Abby teriak sambil mata terbuka kyk orang yang mimpi buruk . Setelah itu matanya kaku lihat ke atas dan badannya pun kaku. Ya Tuhan Yesus! Saat itu juga gw sangat amat ketakutan, dan gw langsung ambil kesimpulan bhw ini Kejang Demam. Krn gw belum banyak baca mengenai hal ini, akhirnya gw putuskan harus segera ke rumah sakit terdekat. Dengan panik, karena melihat abby yg mulai membiru dan masih kaku, gw n hubby segera lari menuju mobil n ke rmh skt. Biasanya sih kita ke RSIA Hermina, tapi  karena jarak yg lumayan, akhirnya kita pergi ke yg terdekat, yaitu RSIA Masmitra di Jatimakmur.

Sampai di Masmitra, langsung gw lari ke UGD. Abby uda tidak kejang sejak di mobil, tapi keadaannya tidak sadar. Akhirnya langsung diambil tindakan. Dikasi Diazepam dan obat penurun panas, sambil dikompres. Juga sambil dipasang selang infus. Gw pasrah! Karena gw ngga tau apa yang harus dilakukan, gw membiarkan dokter n suster untuk mengambil tindakan yg dianggap perlu. Pas diukur suhu Abby ternyata di 38,... DerCel. Setelah Abby mulai tersadar dan menangis, gw mulai lega. Akhirnya Abby diambil darah utk dites. Leukositnya memang di ambang. Artinya terdapat infeksi. Dokter memutuskan memberikan antibiotik. Sekali lagi, gw pasrah!!! Huhuhuhu. Abby yg selama ini gw jaga agar ga sembarangan minum obat, akhirnya harus diinjeksi sama antibiotik. Sedih, sakit hati, tapi tidak berdaya. Setelah sadar setengah sadar, Abby sempat minta tetek. Pas gw sodorin, dia kayak ga nangkep. Mungkin apa masih dalam pengaruh obat, gw ga ngerti. Yang pasti tuh usaha dia utk netek akhirnya ga dapat pdhal ud gw sodorin, tapi dia mau ga mau. Akhirnya abby pun cape sendiri dan tertidur. Setelah itu, kita menunggu cukup lama sampai akhirnya bisa masuk ke kamar. Gw pilih kamar VIP, karena gw lebih suka privasi dan lebih nyaman saja rasanya.

Lanjut ke kamar, gw masi was2 terus, dan netekin abby lagi ampe dia bnr2 tidur. Akhirnya setelah dia tidur, gw n hubby pun tidur juga. Teeeeng!!! Di saat kita semua tertidur, kecolongan deh!!! Tau2 gw denger koq ada suara pentokan brp kali, langsung mata gw terbuka, dan tertuju ke tmpt tidur abby. Dan Abby lg kejang utk ke-2 kalinya!!! OMG!!! Kejang ke2x ini yg sangat amat gw sesali. Seharusnya ini tidak perlu terjadi, kalau saja selama beberapa jam kita di kamar, suster masih kontrol ke kamar, baik sekadar cek suhu tubuh or ngapain. Bel langsung gw pencet selama mungkin, segera juga suster pada masuk. Somehow, gw merasa suster yg piket masih pd bleeh kyk ga tau apa yg mesti dilakukan. Tapi gw ga mo terpancing, gw coba ikutin aja alur mrk.  Kejang Abby lgs reda setelah dipasang oksigen. Abby dikasi diazepam lagi lewat dubur tapi dikeluarin sebanyak 3x barengan sama poopy nya. Diukur suhu tubuhnya 39 DerCel. Akhirnya diinjeksi antibiotik. Keadaan mulai tenang n terkendali kembali. Gw smpt menanyakan ke dokter jaga, kenapa bs sampai terjadi??!! Krn gw berpikir, gw ud di rmh sakit, seharusnya ada kontrol dari tim medis. Eeeh gw malah dibilang seharusnya Bapak Ibunya tidak ketiduran dsb, intinya dia berusaha utk menunjukkan bkn salah dari pihak mereka. Yauda gw lagi ga mau debat lbh jauh, karena subuh jam 2-3an pagi, dan gw jg cape. Akhirnya setelah itu, baru para suster bener2 kontrol ke kamar hampir setiap 2 jam. Memang itu sih yg harus dilakukan!!! Karena ini bisa menjurus ke malpraktik dan kesalahan medis, karena lalai terhadap pasien.

Pagi hari Jumat 08 Juni 2012 kita mendpt visit dari dokter Ida Susilawati. Setelah menceritakan semua yg terjadi, kemudian  beliau bilang akan memastikan kalau suster kontrol terus ke kamar.  Gw bilang ga masalah koq, bolak balik masuk kamar juga gpp. Beliau jg sempet bilang klo ini karena virus. Setelah itu sampai besokan siang panas tubuh Abby masih naik turun berkisar 37-38 DerCel. Obat penurun panas dan obat anti kejang masih terus dikonsumsi, berbarengan sama antibiotik yg dinjeksi 3x sehari. Namun abby sudah kembali ceria, malah minta jalan turun dari ranjang, ga bisa diem. Pas sore, suhu badan abby mulai bagus dan lebih stabil. Malam pun mendekat, gw dan hubby pun deg2an karena menurut kami waktu paling riskan adalah malam hari. Kami pun tdk mau sampai kecolongan lagi. Dengan terus berdoa, kami pun ronda utk melek menjaga abby. Puji Tuhan, malam hari berlangsung dengan 'aman'. Abby baik2 saja. Mungkin karena obat yang rutin dikonsumsi, jadi terjaga. 

Sabtu pagi 09 Juni 2012, karena suhu bdn abby ud mulai stabil, kami berpikir utk mau keluar rmh sakit. Akhirnya agak siangan, dokter visit dan masih menyarankan untuk rawat inap, karena rmh skt harus memastikan si anak bebas demam 24 jam baru boleh pulang. Oke, make sense juga. Karena gw jg ga mau terjadi apa2 lagi, dan berpikir lebih aman di rmh sakit. Jadi kami pun memutuskan untuk rawat inap semalam lagi, dengan harapan besar, abby sudah bnr2 fit dan besok kita sudah boleh pulang rmh. Puji Tuhan Yesus, malam ini pun kita lalui dengan 'aman', dan abby uda tidak minum obat. Karena suhu badan uda baik. Hanya infus yang masi terpasang dan antibiotik yg diinjeksi sesuai dosis. Malam ini pun kami tidur dengan 'aman', dengan terus berdoa kepada Tuhan Yesus mohon perlindungan dan penyembuhannya bagi Abigail.

Minggu pagi 10 Juni 2012, kami bangun dengan badan segar, apalagi Abby. Bener2 sudah ceria, aktif dan ceria. Bersyukur anakku sudah fit benar. Kami putuskan untuk mau segera keluar dari rmh skt. Tapi, ternyata krn jdwl injeksi antibiotik berikut adalah jam 14.00 siang, dan kata dokter harus menunggu 2 jam berikut artinya jam 16.00 baru bisa dicabut infusnya, ya sudah deh kita tunggu dengan sabar.

Jam 16.00 pun tiba, hubby urus pembayaran dan administrasi, dan suster mencabut selang infus Abby. Pas di mobil selama perjalanan ke rmh, kelihatan banget kalo abby masi agak "linglung" dengan dunia luar. Secara uda 3 malam mendekam di kamar rmh sakit. Yang penting, sekarang Abby sudah sehat dan ceria seperti sedia kala.

**Pelajaran yang bisa gw petik dari sini :

- Harus lebih bawel dan waspada dengan kondisi badan Abby. Sekarang, kalo sampai Abby demam dikit, setidaknya pada suhu 37,5 DerCel ke atas, uda harus buru dikasih obat penurun panas.

- Untuk tim medis pun gw ga akan tinggal diam lagi. Apapun insting gw, gw akan bawelin. Berkaca dari kejadian kejang ke-2 Abby, di mana belakangan dokter pun secara implisit mengakui, bahwa dikarenakan kita pasien VIP, jadi mereka juga bisa jadi sungkan untuk keluar masuk kamar untuk kontrol, makanya kecolongan. Walau tetap, kami sebagai ortu yang dibilang kalo ampe ketiduran, kasi tau suster spy mereka ganti jaga. Pdhal mnrt gw dgn tidur or ngga pun mrk tetep harus kontrol per jam. Tul ga???!!!

- Harus lebih banyak baca dan cari tahu mengenai penanganan demam anak dan segala pengetahuan perihal anak. Karena gw berprinsip utk harus berikan yang terbaik dari gw untuk anak gw.

- Sampai detik ini masih selalu muncul rasa penyesalan yang mendalam di diri gw yang bikin gw pengen nangis. Rasa di mana  gw ingin bisa memutar balik waktu, ke saat gw tau abby demam, langsung gw kasi obat penurun panas spy tidak terjadi si kejang demam ini. Tapi apalah gunanya penyesalan. Yg penting adalah ke depan ini, gw harus bisa antisipasi dengan cepat dan selalu waspada.

- Perihal pemberian antibiotik yang terus mengganjal di gw, karena si dokter dari hari pertama bilang klo ini krn virus, tapi koq malah dikasi antibiotik. Akhirnya gw tanyain lagi pas kontrol bbrp hari kemudian stlh keluar dari rmh skt. Dokter menjelaskan pemberian antibiotik mau ga mau harus mereka lakukan juga karena panas Abby yang tinggi, dan kudu penanganan. *sigh*

Semua ini sudah terjadi. Segala macam obat sudah masuk ke Abby. Gw ga bisa berbuat apa2 lagi selain selalu waspada untuk ke depan dengan terus berdoa bagi kesehatan Abigail.

Moga cerita ini bisa bermanfaat bagi para orang tua ya, terutama karena gw ga mau klo kejadian bgini terjadi pada orang lain.

**Somehow, sekarang gw lebih lega setelah menuangkan unek2 ke tulisan.^^





Minggu, 25 Maret 2012

2012

Sudah memasuki minggu terakhir dari bulan Maret 2012. Rasanya baru saja melewati malam pergantian Tahun Baru alias Old&New, sekarang sudah masuk Triwulan I di tahun 2012. Waktu berjalan cepat. Secepat melihat perkembangan Abigail yang makin pintar, dan Puji Tuhan sehat selalu. Dalam berapa hari ke depan, Abigail akan genap berusia 18 bulan. Yeaaay! Kalau kata orang, sekarang sudah saatnya kasih adik ke Abby. Gw setuju sih, karena menurut gw, memang, mendingan sekalian capek. Tapi ya gw cuman bisa berusaha dan berharap, karena yang menentukan adalah Yang Maha Kuasa Gusti Yesus. Hehehe.

Sampai sekarang gw masih hanya memberikan ASI kepada Abigail. Ngga nyangka, dan bersyukur bisa sampai detik ini dan masih niat untuk lanjut sampai Abby genap 2 tahun. Banyak yang selalu bilang kalau gw beruntung karena ASI banyak, padahal mereka belum tahu kalau ada perjuangan di balik itu semua. Tentu saja! Hidup adalah perjuangan untuk mendapatkan yang terbaik. Yang gw lakukan sekarang kalau ketemu calon Ibu adalah berusaha menguatkan si calon Ibu untuk memberikan ASI ke anaknya. Karena ASI adalah untuk bayi manusia. Dan tidak ada susu lain manapun yang bisa menandingi ASI yang notabene ciptaanNya. Merupakan satu kebanggaan dan kebahagiaan bagi gw kalau ada teman yang tanya ini-itu mengenai ASI. Senang bisa berbagi info yang gw tau dan yang pernah gw alami. Moga bisa terus membantu teman yang membutuhkan info or support.^^